This entry was posted on Monday, March 30th, 2009 at 1:45 pm and is filed under Renungan Kristiani. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Definisi Paskah - Paskah 1
Author: david manurung30.03.2009
Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan keputusan konsili yang selamat hingga jaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah.
Definisi Paskah
Definisi Paskah (diambil dari situs Sabda Alkitab), antara lain dari Kamus Gering, Kamus Alkitab dan Kamus Haag
Kamus Gering:
Pesta pertama dari ketiga pesta tahunan yang terbesar dari orang Ibrani, dirayakan dalam bulan Nisan dari tanggal 14 sampai 21. Sebagai peringatan tentang peristiwa malaikat maut ketika melalui rumah-rumah Israel hendak membunuh semua yang sulung di tanah Mesir (baik binatang maupun manusia), sebelum bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Keluaran 12:1-51; 13:13-10; 23:14-19; Imamat 23:4-14. Disebut juga “pesta roti tak beragi”. Domba Paskah disembelih sebagai membayangkan Kristus dan kesengsaraan-Nya. Paskah orang Kristen ialah Perjamuan Suci.
Kamus Kecil Alkitab:
Terjemahan Baru:
Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak-anak sulung orang Mesir dibunuh, tetapi pintu-pintu rumah orang Ibrani “dilewati” (Ibrani P`esah berarti: melewati). Peristiwa itu diperingati dengan mengadakan perjamuan Paskah di mana para peserta “makan Paskah” yaitu makan “korban Paskah” atau anak domba Paskah itu (Kel 12:23-28, Kel 12:43-51). Dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus disebut “anak domba Paskah” (1Kor 5:7) atau “Anak Domba yang disembelih” (Wahy 5:6). Untuk Jemaat Purba hari Paskah mendapat isi baru, yaitu perayaan kebangkitan Tuhan.
Bahasa Indonesia Sehari-hari:
Hari perayaan peringatan pembebasan bangsa Ibrani dari perbudakan di Mesir. Pada hari itu malaikat kematian masuk rumah-rumah orang Mesir dan membunuh semua anak-anak sulung mereka, tetapi rumah-rumah orang Ibrani dilewati (Kel 12:23-27). Dalam bahasa Ibrani “Pesah” berarti “melewati”. Hari raya ini jatuh pada tanggal 14 bulan Nisan, yaitu tanggal yang berdekatan dengan tanggal 1 April. Untuk jemaat Kristen yang mula-mula dalam Perjanjian Baru, hari Paskah ini mendapat isi baru, yaitu perayaan hidupnya kembali Tuhan Yesus dari kematian.
Kamus Haag:
1. Bahasa Ibrani: pesakh
2. Bahasa Aram: Pasgha
3. Bahasa Yunani: Paskha
Arti dasarnya: meloncat. Dari situ timbul arti: meloncat di dalam kebaktian, menari, dan (dalam arti kiasan) Kel 12:13,23,27; Yes 31:5; melewati/menyayangkan.
1. Di Dalam PL. Naskah Alkitab yang tertua membangkitkan kesan, bahwa ritus Paskah sudah dilakukan sejak zaman –> Musa oleh suku bangsa Isr. (Kel 3:18; 8:21-24; 10:7-11,24,26 dan lain-lain). Penyelidikan ilmiah menemukan awal Paskah sebagai pesta musim semi dari para pengembara. Di dalam pesta itu mereka kurbankan dari kawanan ternak mereka (: kini masih dipertentangkan, apakah disitu dipersembahkan kurban –> hasil pertama). Darah binatang kurban dioleskan pada tiang pintu. Dagingnya dijadikan kurban selamatan bersama keluarga dan dimakan bersama roti yang tidak diberi ragi. Dari binatang kurban tidak ada tulang yang boleh dipatahkan (suatu pengertian apotropeis).
Israel melangsungkan ritus itu, apabila mereka hubungkan pesta para pengembara dengan saat –> keluaran dari Mesir dengan menjadikannya peringatan karya keselamatan Yahwe. Perubahan pengertian pada arti sejarah keselamatan jelas-jelas dapat dinyatakan legitim (Kel 12:14,23,27,31). Meskipun undang-undang Kel 12:1-14 termasuk golongan tahap tradisi termuda dari Paskah (tradisi Imamat), tetapi di situ jelas tetap tersimpan ritus ibadat dalam bentuknya yang tertua: Bulan pertama dalam musim semi menurut kebiasaan para pengembara dianggap sebagai awal tahun (–> tanggalan).
Pesta itu dirayakan sebagai pesta keluarga. Di situ tidak dibicarakan tentang imam-jabatan. Setelah bangsa Isr. menetap hidupnya, mereka gabungkan minggu pesta roti tanpa ragi (–> Mazzot) pada malam Paskah. Tambahan ini berlawanan dengan Paskah para pengembara, sebab menyangkut sebuah pesta musim dari para petani (: perkembangan pesta itu bdk.: Kel 12:21-23 dengan Ul 16:1-8). Pada pemberian undang-undang menurut tradisi deuteronomis hilanglah sifat-sifat keluarga dan pengembara itu, sebab perayaan itu harus dilakukan di kenisah.
Di samping ternak kecil yang sampai detik itu merupakan satu-satunya binatang kurban yang diijinkan, kini diijinkan pula ternak besar. Perubahan itu nampaknya tidak berlangsung selamanya (Kel 12:1-14; Im 23:5-8; kebiasaan di Elefantin). Pada zaman setelah pembuangan orang merayakan Paskah dalam bentuk, di mana digabungkanlah undang-undang imamat dengan undang-undang Ulangan: Penyembelihan binatang kurban dilakukan di kenisah, diikuti selamatan kudus di kalangan keluarga atau di tengah kelompok hariannya, seperti yang dilakukan Yesus bersama para muridNya. Sejak hancurnya kenisah (70 sesudah Mas.), ritus para pengembara hanya dilakukan oleh orang-orang (–>) Samaria pada gunung Gerizim. Perjamuan selamatan pada bangsa Yahudi berubah bentuk dan mempunyai corak sebuah pesta makan Yunani atau Romawi: Pada saat makan daging domba, orang minum anggur (4 piala) dan orang makan rempah-rempah, buah rebus dan roti tanpa ragi.
Di tengah-tengah perjamuan makan dibacakan cerita Keluaran dan orang menyanyikan –> Hallel. Pada setiap perayaan itu setiap orang “dalam setiap zaman diwajibkan menangkap dirinya sedemikian rupa, seolah-olah ia sendiri pergi keluar dari Mesir” (Imamat 10:5), artinya: Karya keselamatan Tuhan di waktu lampau dihadirkan kembali di dalam Paskah dengan dihubungkan pada suatu harapan eskatologis. Dengan demikian perayaan Paskah mempunyai sifat sakramentil.
2. Di Kumran. Dari tanggalan pesta mereka, sudah jelas bahwa jemaat Kumran merayakan Paskah. Adapun tanggalan tersebut tidak cocok dengan tanggalan yang berlaku di kenisah Yerusalem dan jemaat Kumran menghindari setiap kontrak dengan kenisah, sehingga perayaan Paskah pasti tidak dimulai dengan penyembelihan domba Paskah menurut ritus resmi, melainkan digantikan dengan perjamuan selamatan kudus lainnya.
3. Di Dalam PB. Bagi tradisi sinoptik, Ekaristi adalah Paskah dalam PB, sebab perjamuan perpisahan Yesus dengan para muridNya (Mark 14:12-16 dsj.) ditangkap sebagai perjamuan Paskah. Sebaliknya bagi Paulus dan Yohanes Paskah PL dipenuhi di dalam wafat Yesus di salib (1Kor 5:7; Yoh 19:14,30-31 [Yesus wafat pada saat di Kenisah domba-domba Paskah disembelih] 36). Tradisi kedua ini berlangsung terus di dalam Gereja: Nama Paskah adalah untuk perayaan Paskah sebagai peringatan wafat Yesus dan kebangkitan-Nya. Tetapi, karena peringatan ini dilakukan secara sakramentil di dalam ekaristi, maka dengan syah ekaristi dapat dikatakan menjadi perjamuan Paskah dalam PB. –> Perjamuan Malam.
Perhitungan Tanggal Paskah
Paskah (dan perayaan lain yang berhubungan) yang merupakan hari terpenting dalam kalender gerejawi disebut sebagai perayaan yang berpindah, yang berarti perayaannya tidak terpaku pada tanggal tertentu di dalam kalender Gregorian maupun Julian (yang sama-sama mengikuti perputaran matahari dan keempat musim) melainkan dihitung menurut kalender suryacandra seperti kalender Ibrani. Hal inilah yang mendasari ilmuwan-ilmuwan mempelajari astronomi secara sistematis.
Di dalam kalender Gregorian, Paskah selalu jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret dan 25 April (inklusif). Hari berikutnya, Senin Paskah, merupakan hari libur di banyak negara dengan tradisi Kristen yang kuat. Untuk negara-negara yang mengikuti kalender Julian untuk perayaan-perayaan keagamaan, Paskah juga jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret (KJ) dan 25 April (KJ), yang dalam kalender Gregorian adalah 4 April-8 Mei (inklusif).
Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan keputusan konsili yang selamat hingga jaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah. Epifanius dari Salamis menulis pada pertengahan abad ke-4:
…kaisar…menghimpun dewan dengan 318 uskup…di kota Nicea…Dalam konsili tersebut mereka juga menyetujui suatu kanon gerejawi, dan pada saat yang bersamaan menitahkan berkenaan dengan Paskah (Yahudi) bahwa diperlukan adanya satu permufakatan tentang perayaan hari Tuhan yang suci dan teramat penting tersebut. Karena hal tersebut diperingati secara berbeda-beda oleh orang-orang…
Pada tahun berikutnya, cara perhitungan yang dikerjakan oleh gereja Aleksandria menjadi standar perhitungan. Secara perlahan sistem tersebut mulai tersebar ke gereja-gereja Kristen di Eropa. Gereja Roma meneruskan penggunaan siklus kalender suryacandra yang berusia 84 tahun sejak akhir abad ke-3 hingga 457. Gereja Roma terus menggunakan caranya sendiri hingga abad ke-6 saat metode Aleksandria telah dikonversikan ke kalender Julian oleh Dionysius Exiguus. Gereja mula-mula di Britania dan Irlandia juga menggunakan metode Roma yang lama tersebut hingga Sinode Whitby tahun 664 saat mereka mulai menggunakan metode Aleksandria. Gereja-gereja di belahan barat Eropa menggunakan metode Roma hingga akhir abad ke-8 pada masa pemerintahan Karel yang Agung, lalu mereka menggunakan metode Aleksandria. Namun demikian, sejak Gereja Katolik mulai menggunakan kalender Gregorian menggantikan kalender Julian sejak 1582 dan Gereja Ortodoks Timur tetap berpegang pada kalender Julian, maka perayaan Paskah kembali dirayakan secara berbeda, dan perbedaan itu tetap ada hingga saat ini.
Dalam perhitungan gerejawi, gereja-gereja Kristen menggunakan 21 Maret sebagai awal tanggal perhitungan Paskah, dari sana dicari kapan bulan purnama berikutnya, dst. Bagi gereja-gereja Ortodoks yang masih menggunakan kalender Julian, tanggal yang digunakan juga 21 Maret, namun dalam kalender Julian, sebagai akibatnya terdapat perbedaan-perbedaan (lihat tabelnya di Wikipedia).
Perhitungan yang kompleks tersebut kira-kira dapat disederhanakan sebagai berikut:
Paskah ditentukan berdasarkan siklus suryacandra. Satu bulan dalam penanggalan candra (bulan) terdiri dari bulan-bulan sepanjang 30 hari dan 29 hari, berselang-seling, dengan satu bulan tambahan yang ditambahkan secara berkala agar pas dengan penanggalan surya (matahari). Dalam setiap tahun surya (1 Januari hingga 31 Desember), bulan candra dimulai dengan sebuah purnama gerejawi yang jatuh pada periode 29 hari di antara 8 Maret hingga 5 April (inklusif) dan dinamakan “bulan candra Paskah” tahun tersebut. Paskah adalah hari Minggu ke-3 dalam bulan candra Paskah, atau dengan kata lain hari Minggu setelah hari ke-14 bulan candra Paskhal. Hari ke-14 itu sendiri dinamakan purnama Paskah, walaupun hari ke-14 pada bulan candra dapat berbeda dengan purnama astronomis hingga 2 hari lamanya.[35] Karena purnama gerejawi jatuh pada tanggal 8 Maret hingga 5 April (>8 Maret & <=5 April), purnama Paskhal atau hari ke-14-nya pasti jatuh pada tanggal 21 Maret hingga 18 April (>21 Maret & <=18 April).
Dengan demikian Paskah menurut kalender Gregorian akan memiliki 35 kemungkinan hari - antara 22 Maret hingga 25 April (inklusif)[36]. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 22 Maret adalah pada tahun 1818 dan berikutnya adalah tahun 2285. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 25 April adalah pada 1943 dan berikutnya adalah tahun 2038. Siklus perputaran tangan-tanggal Paskah berulang tepat setiap 5.700.000 tahun; 19 April merupakan tanggal Paskah yang tersering, yang terjadi 220.400 kali, atau 3.9%, dibanding dengan median tanggal-tanggal lainnya sebanyak 189.525 kali atau 3.3%. Paskah menurut kalender Julian seringkali (sekitar 50%) dirayakan 1 minggu setelah kalender Gregorian, karena tidak adanya penyesuaian perhitungan tanggal seperti yang dilakukan di kalender Gregorian. Namun tidak jarang pula selisih waktunya hingga 3-4 minggu.
Untuk menghindari perbedaan cara perhintungan Paskah, gereja Katolik telah membuat tabel tanggal Paskah menurut aturan di atas. Seluruh gereja yang merayakan Paskah merayakannya sesuai dengan tanggal di tabel.
Beberapa algoritma yang digunakan untuk menghitung Paskah antara lain perhitungan Gregorian, algoritma Gauss, algoritma Gregorian anonim, dan algoritma Julian Meeus.
Bukti Sejarah Kebangkitan
Pengantar
Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya.
1. Apakah kebangkitan Kristus hanya sekedar ajaran saja?
2. Apakah kebangkitan Kristus hanya legenda saja?
3. Ataukah kebangkitan Kristus benar-benar terjadi dalam sejarah?
Penjelasan
Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.
Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.
Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang mempunyai kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Apakah ini pembicaraan ajaran? Tidak, ini adalah pembicaraan sejarah.
Ignatius yang berasal dari Syria, bishop dari Antiokhia, murid Rasul Yohanes, yang hidup antara tahun 50-115 M, dalam perjalanannya dihukum mati sebagai martir dengan diadu dengan binatang buas, menulis tentang Kristus:
“Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar disalibkan dan mati di hadapan penghuni sorga, penghuni bumi dan bawah bumi.
Dia juga bangkit pada hari ketiga…
Pada hari persiapan Paskah, pada jam 3 (pukul 9 pagi), Dia menerima hukuman mati dari Pilatus; Bapa mengijinkan hal itu terjadi.
Pada jam 6 (pukul 12 siang), Dia disalib. Pada jam 9 (pukul 15 siang), Dia menyerahkan nyawa-Nya, dan sebelum matahari terbenam, Dia dikuburkan.
Selama hari Sabat, Dia terus di dalam bumi pada kubur di mana Yusuf dari Arimatea membaringkan-Nya.
Dia berada dalam rahim, seperti halnya kita, dan setelah periode waktu yang umum, Dia benar-benar lahir, dan seperti halnya kita, Ia benar-benar disusui, dan mengambil bagian dalam makan dan minum seperti halnya kita. Ketika Ia hidup di antara orang-orang selama 30 tahun, Dia benar-benar dibaptis oleh Yohanes. Ketika Dia mengajar Injil selama 3 tahun dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat, Dia yang adalah Hakim dihakimi oleh orang Yahudi, dianggap bersalah kata mereka, dan oleh pemerintahan gubernur Pontius Pilatus dijadikan momok, pipi-Nya dipukul dan diludahi. Dia memakai mahkota duri dan jubah ungu. Dia dihukum: Dia benar-benar disalib, tidak dalam penglihatan, tidak dalam halusinasi. Dia benar-benar mati dan dikuburkan, dan bangkit dari antara orang mati.”
Mengenai kematian Kristus, Wilbur Smith menulis: “Secara sederhana kita mengetahui banyak hal-hal detil sebelum dan saat kematian Yesus, lebih banyak dari kematian tokoh-tokoh lain leluhur dunia”.
Pada akhir abad pertama, Josephus, seorang sejarahwan Yahudi menulis dalam bukunya Antiquities:
“Pada kira-kira waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, jika memang seseorang seharusnya menyebut dia seorang manusia. Karena ia adalah seseorang yang mengadakan hal-hal yang mengejutkan dan adalah seorang guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Ia memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. Ia adalah Sang Kristus. Ketika Pilatus, karena mendengar bahwa ia dikenai tuduhan oleh orang-orang dengan jabatan tertinggi di antara kami, telah menjatuhkan hukuman salib kepadanya, mereka yang dari mulanya sudah mengasihi dia tidak melepaskan kasih sayang mereka kepadanya. Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan kembali hidup, karena nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan hal-hal ini dan tak terhitung banyaknya hal-hal menakjubkan lainnya mengenai dia. Dan suku Kristen, demikian mereka disebutkan menurut namanya, sampai saat ini masih ada.”
Injil-injil menjelaskan fakta-fakta yang berhubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus lebih detail dari bagian manapun pelayanan Yesus. Detil dari kebangkitan Yesus harus diterima seperti halnya detil kematian-Nya.
Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa: Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Murid-murid-Nya menjadi sangat kehilangan semangat dan takut.
Beberapa waktu yang singkat kemudian tiba-tiba semangat mereka bangkit, dan menunjukkan suatu semangat dan keberanian yang sangat tinggi, hingga tahap bersedia mati martir. Jika kita bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan perubahan ini, mereka tidak akan menjawab, ‘Karena penyaliban, kematian dan penguburan seorang yang pernah hidup’, tetapi mereka akan menjawab, ‘Karena Tuhan telah bangkit’. Inilah yang menyebabkan orang-orang menjadi percaya.
Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Catatan sejarahwan Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3,
“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”
Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Penampakan ini terjadi dalam waktu yang dapat ditentukan, kepada banyak orang yang dapat ditentukan, dan dalam tempat yang dapat ditentukan.
Para murid percaya karya penebusan Yesus melalui bukti yang sangat kuat mengenai kebangkitan-Nya dan bukti ini tersedia kepada kita sekarang melalui catatan Perjanjian Baru. Ini penting bagi kita yang hidup di dalam jaman yang meminta bukti untuk mendukung pernyataan Kekristenan mengenai kebangkitan Kristus; untuk menjawab mereka yang meminta bukti sejarah Kebangkitan Kristus.
Kebangkitan Kristus berdasar kepada fakta sejarah, dan merupakan sumber motivasi yang kuat orang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Ada bukti-bukti yang tidak dapat disanggah mengenai kebangkitan Kristus dalam surat-surat Paulus. Surat-surat yang ditujukan kepada: Galatia, Korintus, dan Roma, adalah surat yang ditulis Rasul Paulus selama dalam perjalanan misi antara tahun 55-58 M. Ini menunjukkan bahwa bukti-bukti kebangkitan Kristus sangat dekat dengan peristiwa itu sendiri, karena Paulus sendiri berbicara secara jelas bahwa materi surat yang ia tulis isinya sama dengan yang ia bicarakan waktu ia bersama-sama dengan mereka.
Kebangkitan Kristus adalah dasar dari pembelaan iman Kristen. Rasul-rasul adalah saksi kebangkitan: “… mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Para Rasul 1:22).
Isi dari pengajaran rasul Paulus saat di Athena adalah: “Yesus dan Kebangkitan” (Kisah Para Rasul 17:18). Khotbah pertama Petrus adalah tentang Kebangkitan: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Para Rasul 2:32).
Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.
1. Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.
2. Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa manusia adalah fakta sejarah.
3. Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa Saudara adalah fakta sejarah.
4. Maukah Saudara menerima fakta sejarah ini?
5. Maukah Saudara menerima karya penebusan Kristus bagi Saudara?
6. Maukah Saudara diselamatkan dari hukuman dosa, kemudian menerima hidup kekal?
7. Maukah Saudara menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Saudara?
Sumber:
Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson Publisher.
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. F: 021-74709281

