Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 520

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 535

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 542

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 578

Deprecated: Function set_magic_quotes_runtime() is deprecated in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php on line 18

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/davidmnr/public_html/blog/wp-settings.php:520) in /home/davidmnr/public_html/blog/wp-content/plugins/wassup/wassup.php on line 1434
MY PERSONAL BLOG » Blog Archive » Panjang Umur Pancasila!
 
 

Panjang Umur Pancasila!

Author: david manurung
20.03.2009

Bangsa ini telah lama terjangkit penyakit oxymoronology. Ia bukan cuma memelesetkan makna, melainkan juga merusak hakikat, mengelabui hati nurani, mengibuli diri sendiri, dan memecah belah. Frase oxymoron yang paling tepat menggambarkan kondisi bangsa ini, setidaknya selama sepuluh tahun terakhir, ialah ”komedi tragis”. Komedi semestinya menghibur dan dilarang tragis.

Panjang Umur Pancasila

Kata oxymoron merujuk pada gaya bahasa yang menggunakan kata-kata yang bertolak belakang. Oxys artinya tajam, moros artinya pandir.

Jika menyebut atau menulis frase oxymoron, Anda mengombinasikan gagasan-gagasan yang berlawanan. Kalau mereka digabungkan, makna frase itu jadi paradoks yang tak masuk akal.

Frase oxymoron, misalnya ”etika bisnis” atau ”moral politik”. Di negeri-negeri lain, praktik bisnis menjunjung etika karena sistem hukumnya dipatuhi setiap orang.

Di mana pun, tujuan politik pasti mulia karena ingin menyejahterakan rakyat. Pilpres AS, misalnya, bersih dari politik uang berkat ketatnya pengawasan dana kampanye capres.

Namun, bisnis di sini tak selalu beretika sejak era Ali-Baba pada masa lampau sampai era KKN versi reformasi. Politik nyaris tak bermoral karena skandal-skandal politisi melebihi yang terjadi di Hollywood.

Bangsa ini telah lama terjangkit penyakit oxymoronology. Ia bukan cuma memelesetkan makna, melainkan juga merusak hakikat, mengelabui hati nurani, mengibuli diri sendiri, dan memecah belah.

Frase oxymoron yang paling tepat menggambarkan kondisi bangsa ini, setidaknya selama sepuluh tahun terakhir, ialah ”komedi tragis”. Komedi semestinya menghibur dan dilarang tragis.

Namun, yang terjadi sebaliknya. Hampir semua tragedi bangsa mengandung elemen-elemen komedi yang jauh lebih jenaka ketimbang lawakan Srimulat.

Salah satu contohnya kontroversi blue energy. Frase oxymoron-nya tampak dari misteri orang yang ”menemukan” energi itu yang sempat ”menghilang” sejenak entah ke mana.

Alangkah ironisnya sang penemu malah sempat hilang batang hidungnya. Bagi saya, heboh blue energy ”menghilangkan” harga diri bangsa yang sudah lama berusaha ”menemukan” jati dirinya.

Blue energy menciptakan oxymoron lainnya, yakni ”pemimpin tertipu”. Di negara mana pun pemimpin mustahil dikadali orang karena dilindungi ketat staf ahli, tangan kanan, ajudan, fungsionaris partai, sampai tukang pukul.

Namun, tak sedikit pemimpin yang dimangsa penipu murahan. Wapres Adam Malik kena tipu Cut Zahara Fona yang mengaku jabang bayinya bisa berbicara dari dalam perutnya.

Ketika jadi presiden, Gus Dur dibohongi tukang pijatnya sendiri. Seorang menteri pada era Presiden Megawati Soekarnoputri diapusi orang-orang yang bersumpah telah menemukan harta karun di Bogor.

Frase oxymoron lainnya berita tentang motivator penyebar Rp 100 juta dari pesawat. Tak ada ilmu motivasi mengajari cara yang gampang untuk kaya tanpa keringat—apalagi heboh kayak berebut durian runtuh.

Contoh lain frase oxymoron ialah dengang-dengung pejabat tentang soft power (daya lunak) sebagai kekuatan bangsa ini. Saya, sih, suka ”Ayam Tulang Lunak” atau suara lunak juara kedua American Idol, David Archuleta.

Namun, daya bangsa besar yang tergolong middle power ini tak boleh lunak. Suplai daya listrik dari PLN boleh berkurang, daya beli rakyat boleh menurun, tetapi daya tawar bangsa di arena internasional tak boleh lembek.

Dan, kalaupun bangsa ini sering dilecehkan bangsa-bangsa lain, itu akibat pemerintah ”salah urus”. Ini frase oxymoron lagi karena mengurus bangsa seyogianya tak boleh salah, kan?

Salah urus terjadi karena kekeliruan bahasa politik eufimistis selama puluhan tahun. Rakyat sejak dulu sampai kini diminta ”rela berkorban demi pembangunan”.

Ini frase oxymoron lagi. Sebab, pembangunan jangan sampai menimbulkan korban di kalangan rakyat.

Jika rakyat justru menjadi korban, untuk apa pemerintah membangun? Apalagi jika pengorbanan itu diminta secara sukarela, pasti tak ada seorang pun yang mau.

Setelah dipaksa berkorban— walaupun tak rela—hidup rakyat tetap susah. Soalnya, di negeri ini tak mungkin ada harga barang-barang kebutuhan pokok yang pernah turun.

Menurut pemerintah, demi pemerintah, itu adalah ”penyesuaian harga” alias bukan kenaikan harga—apalagi penurunan harga. Faktanya harga barang-barang nyaris tak terjangkau lagi alias tak ”sesuai” lagi dengan daya beli rakyat.

Maka, mahasiswa pun, seperti yang terjadi hari-hari ini, memprotes. Pemerintah biasanya menyebut demonstrasi dengan frase oxymoron lagi, yakni ”unjuk rasa”.

Menurut saya, ”rasa” sukar ”diunjukkan” karena tiap orang lebih suka menyimpannya di hati. Terdapat kesan ”unjuk rasa” sikap emosional atau tak berbasis akal sehat.

Jika unjuk rasa anarki, pendemo ”diamankan aparat berwenang”. Ini frase oxymoron karena para pendemo diciduk oknum yang tak punya kewenangan.

Oleh aparat itu, pendemo dituduh sebagai anggota ”organisasi tanpa bentuk” (OTB). Ini frase oxymoron yang menyesatkan lagi.

Sebab, organisasi pasti ada bentuknya, kan? Cap OTB lebih pas untuk calon-calon peserta pilkada perseorangan/independen karena mereka tak punya partai.

Tadinya saya kira oxymoronology selesai setelah reformasi 1998. Apa lacur, ia merajalela kembali dalam bentuk-bentuk lain.

Ada yang bilang ”reformasi gagal”. Padahal, reformasi bukan kegagalan karena ia bermakna ”membentuk kembali”.

Kalau gagal, ia disebut ”deformasi” atau kehilangan bentuk aslinya. Itulah yang terjadi jika ada pihak yang mengganggu Bhinneka Tunggal Ika.

Panjang umur untuk Pancasila!

Penulis: Budiarto Shambazy

Sumber: Kompas: Selasa, 3 Juni 2008 & Indopolitik.com

Bookmark and Share

Leave a Reply