Cadangan Devisa RI Tinggal USD 50,9 M

Author: david manurung
04.02.2009

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2009 tercatat sebesar USD50,9 miliar. Jumlah itu jauh menurun dibanding akhir 2008. Upaya penguatan cadangan devisa merupakan hal penting dan cadangan devisa yang ideal untuk Indonesia sebesar USD100 miliar. Salah satunya dengan membangun komitmen pinjaman baik secara bilateral maupun multilateral.

Cadangan Devisa RI Tinggal USD 50,9 M

JAKARTA - Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2009 tercatat sebesar USD50,9 miliar. Jumlah itu jauh menurun dibanding akhir 2008.

Cadangan devisa dapat dikatakan aman jika cukup membiayai impor selama empat bulan dan utang jangka pendek.

“Jumlah cadangan devisa ini setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ucap Gubernur Bank Indonesia Boediono, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (4/2/2009).

Sebelumnya, Boediono mengakui, cadangan devisa yang hanya USD50,9 miliar ini belum aman. Sebaiknya cadangan devisa berada di atas USD60 miliar.

Berikut cadangan devisa di Bank Indonesia, pada 2008.

1. Desember 2007 = USD56,999 miliar

2. Januari 2008 = USD55,999 miliar

3. Februari 2008 = USD67,125 miliar

4. Maret 2008 = USD58,987 miliar

5. April 2008 = USD58,770 miliar

6. Mei 2008 = USD57,464 miliar

7. Juni 2008 = USD59,45 miliar

8. Juli 2008 = USD60,563 miliar

9. Agustus 2008 = USD58,358 miliar

10. September = USD57,108 miliar

11. Oktober = USD50,85 miliar.

12. Desember = USD51,6 miliar. (rhs)

Cadangan Devisa Ideal Indonesia USD100 M

JAKARTA - Upaya penguatan cadangan devisa merupakan hal penting dan cadangan devisa yang ideal untuk Indonesia sebesar USD100 miliar. Salah satunya dengan membangun komitmen pinjaman baik secara bilateral maupun multilateral.

Dengan cadangan devisa sebesar USD50 miliar, Bank Indonesia (BI) hanya memiliki kemampuan kecil dalam intervensi moneter. Padahal, jika melihat kasus yang terjadi di Rusia, dengan cadangan devisa yang besar harus susah payah menstabilkan mata uangnya. Apalagi, jika Indonesia menginginkan menjadi negara yang mengutamakan ekspor.

“Saya pikir negara sebesar kita perlu memperkuat cadangan devisa. Lihat negara China, Korea, Jepang, dan juga negara tetangga yang cadangannya sangat besar. Ingat bagaimana Rusia harus mengeluarkan banyak devisanya guna menjaga nilai Rubel,” jelas pengamat ekonomi sekaligus anggota Komisi XI DPR Dradjad Hari Wibowo, kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Untuk itu, Dradjad menyambut baik langkah BI menggalang cadangan devisa melalui skema bilateral swap arrangement dengan China, Jepang, dan Korea senilai USD12 miliar. Selain itu, BI juga sedang melakukan pembicaraan dengan pemerintah AS guna mendapatkan fasilitas swap.

Terkait adanya tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF), Dradjad mengatakan bisa saja diterima. Namun, pinjaman ini jangan lagi dibarengi persyaratan yang membebani. Pasalnya, Indonesia harus memperkuat cadangan devisanya. Apalagi di saat krisis keuangan yang membuat likuiditas mengering.

“Jika memang IMF menawarkan boleh saja diterima dengan persyaratan ringan tentunya. Soalnya, kalau menurut saya, cadangan devisa ideal Indonesia minimal sebesar USD100 miliar,” imbuh Dradjad. (Tomi Sujatmiko/Sindo/ade) http://www.okezone.com

Bookmark and Share

Leave a Reply